Minggu, 02 Juni 2019

Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

21 Jun 2018 10554 views13 Comments

Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional.

Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah

Namun belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang mengatakan 1 dirham riba lebih besar dosanya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadits yang lebih serem lagi: Riba memiliki 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung.

Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah haditsnya?

Hadits dengan redaksi yang mirip banyak diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan: Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama sudah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak mengatakan haditsnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Namun ulama lain mengatakan tidak sahih.

Hasil pelacakan saya, hadits seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya:

1. Ibn al-Jauzi menjelaskan kedhaifan riwayat-riwayat hadits semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247):

ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح

‘Gak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar masalah ini.’

Ibn Al-Jauzi mengutip bagaimana Imam Bukhari mengomentari sejumlah perawi hadits yang bermasalah

Abu Mujahid: haditsnya munkar.

Thalhah bin Zaid: munkar.

Jadi bagaimana mungkin dikatakan haditsnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim?

2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu’alimi al-Yamani ketika mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) menulis:

والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة

“yang jelas tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) tidak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.”

3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membuat kesimpulan

‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير

Hadits semacam ini tidak mungkin dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, statusnya tidak sahih dan juga tidak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Tapi buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang banyak (mudtarib).”

4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

“Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dianggap lemah, batil, dan tidak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas.

Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu tidak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali dosanya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Tidak masuk akal.

Karena itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar masalah ini tidak bisa dijadikan pegangan kita. Wa Allahu a’lam

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Sabtu, 01 Juni 2019

Mssiregar Ucok Ini COPAS dari WA teman (ma'af saya lupa WA yang mana) Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina? Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak. Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional. Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah. Namun belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang mengatakan 1 dirham riba lebih besar dosanya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadits yang lebih serem lagi: Riba memiliki 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung. Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah haditsnya? Hadits dengan redaksi yang mirip banyak diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan: Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama sudah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak mengatakan haditsnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Namun ulama lain mengatakan tidak sahih. Hasil pelacakan saya, hadits seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya: 1. Ibn al-Jauzi menjelaskan kedhaifan riwayat-riwayat hadits semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247): ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح ‘Gak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar masalah ini.’ Ibn Al-Jauzi mengutip bagaimana Imam Bukhari mengomentari sejumlah perawi hadits yang bermasalah. Abu Mujahid: haditsnya munkar. Thalhah bin Zaid: munkar. Jadi bagaimana mungkin dikatakan haditsnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim? 2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu'alimi al-Yamani ketika mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) menulis ‎والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة “yang jelas tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) tidak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.” 3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membuat kesimpulan: ‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير “Hadits semacam ini tidak mungkin dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, statusnya tidak sahih dan juga tidak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Tapi buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang banyak (mudtarib).” 4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan: ‎لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا “Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”. Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dianggap lemah, batil, dan tidak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas. Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu tidak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali dosanya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Tidak masuk akal. Karena itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar masalah ini tidak bisa dijadikan pegangan kita. Wa Allahu a’lam Tabik, Nadirsyah Hosen Ini bisa menjadi bahan diskusi terbuka (semoga bukan untuk mencari pembenaran) yang berguna untuk saya dan temans semua MS Siregar, Pekayon, 22 Juni 2018
BERBEDA PENDAPAT Saya akhir-akhir ini sering menggunakan dalil agama mau untuk mencoba belajar ilmu dan menjelaskan kepada saudaraku tentang perbedaan pendapat menurut islam yang saya tahu. Saya sedih karena agamaku sering dibuat tameng untuk pembenaran dan menghujat pihak lain. Suatu saat rasulullah selepas perang khandaq.menginstruksikan kepada sahabatnya untuk segera bergerak ke arah Bani Quraizhah. Karena keputusan ini sangat penting dan perlu sangat segera dituntaskan untuk diselesaikan. Bahkan supaya cepat sampai di tujuan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ Janganlah ada satu orangpun yang(melakukan) shalat ‘Ashar kecuali (sudah sampai) di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4119] Maka segeralah berangkatlah rombongan sahabat ini menujuperkampungan Bani Quraizhah. Dan mengingat pesan rasulullah itu. Di perjalanan menuju tempat yang dituju waku berjalan terus, Bahkan waktu sudah menunjukkan mendekati waktu magrib. Rombongan ini mulai resah karena waktu shalat ashar mendekati habis waktunya. Sebagian rombongan yang ada seta juga resah, mengusulkan agar mereka berhenti dan melaksanakan sholat Ashar dulu. Karena berdasarkan dalil Al Qur’an. Sholat itu adalah perintah yang wajib dilakukan tanpa alasan (kecuali gila dan atau anak anak) yang waktunya ditetapkan. Sedangkan rombongan lain tetap istiqamah, karena menurut mereka ini adalah perintah rasulullah langsung yangpasti benar adanya. Akhirnya kelompok terbelah menjadi dua kelompok. Yakni kelompok pertama menjalankan ashar pada waktunya. Sedang kelompok lainnya tidak sholat ashar, dan melanjutkan perjalanan ke perkampungan Bani Quraizhah. dan mereka melaksanakan sholat ashar setelah sampai d iperkampungan Bani Quraizhah yang waktunya pada waktu shalat Isya. Singkat cerita kedua kelompok ini ketemu dengan Rasulullah. Dan saling mengadu, yang kelompok pertama mengdukan kelompok yang kedua yang melaksanakan Ashar di Waktu Isya. Dan kelompok kedua melaporkan kelompok pertama yang membangkang perintah rasulullah. Setelah mendengar pengaduan keduanya Rasulullah tidak mencela salah satunya. Artinya beliau dapat menerima perbedaan pendapat tersebut dengan baik. Yang ingin saya sampaikan dari moral cerita dan sejarah di atas adalah bahwa perbedaan dalam Islam itu bisa saja terjadi dengan dalil masing masing. Yang penting jangan sampai perbedaan itu menjadi klaim mutlak, bahkan mengharamkan pihak lain dan menuju perpecahan ummat. Silahkan endapat masing masing. Dan saya yakin tulisan saya ini juga kemungkinan mengandung kesalahan. Semoga bermanfaat. MS Siregar, Jatiasih 22 April 2019

Minggu, 21 Mei 2017

AYAHKU BERBOHONG



Baru baru ini ayahku melakukan operasi klenjar prostat RSUD di Sipirok, rumah sakit yang menjadi pilihannya, dikampung halamanku. Pelaksanaan operasi ini hanya di temani oleh adikku satu satunya yang tinggal di kampung waktu itu, dan operasi berjalan lancar.
Namun pada proses penyembuhan, terjadi kendala karena jahitannya terbuka kembali, sekitar sepanjang 10cm. Dan ini memerlukan penanganan khusus, dan bisa mengakibatkan trauma untuk dioperasi kembali. Untuk mengantisispasinya, adik yang berada di perantauan secara bergiliran menemani ayah untuk menambah semangat ybs. 
Saya secara rutin menanyakan kondisi beliau dan menanyakan apakah saya perlu pulang untuk menambah semangat beliau. Beliau selalu menjawab; "nggak apalah nak, sudah cukup, adikmu sudah ada..". Demikian seterusnya. Karena saya sudah mengambil cuti panjang untuk urah (15 hari) baru saja.
Adik saya (ahmad faisal) yg setelah kembali cerita, memang kalau ditanya, beliau selalu menyatakan saya nggak perlu pulang. Namun dari cerita dan harapan ayah bila beliau bercerita kepada orang lain,  tetap mengrharapkan kedatangan saya. Dan ini baru saya tahu, dari cerita adik tsb. 
Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian dan ternyata atasan saya (Yayat Hidayat) sangat mendukung untuk sowan ke ayahanda, 
Walaupun kunjungan saya hanya satu hari penuh saja. Beliau sangat sumringah dan senang atas kedatangan anaknya yang tertua. 
Disana, dari cerita yang saya dapat dari adik yang tinggal di kampung, bila beliau ditanyakan tentang rasa rindunya kepada putra tertuanya ini. Beliau selalu mengatakan tidak mengapa, sudah cukup yang lain sudah pulang. Tapi airmatanya mengalir deras menahan rasa rindunya yang tidak terperi kepada anaknya yang tertua.
Alhamdulillah semoga pengobat rindu sebelum ramadhan ini menjadi berkah dan kesembuhan bagi ayahanda. Bisa menikmati ramadhan yang penuh berkah
Pada perjalanan pulang lewat pesawat dari Sibolga, saya ketemu dengan teman kuliah di IPB, yakni bang Syafril Siregar. Baru saja juga kunjunga ziarah juga ke kampung halaman yang kedua orang tuanya meninggal (satu hari penuh juga). Sungguh saya masih sangat beruntung masih memiliki ayah yang insya Allah sehat.
Saya teringat waktu kecil, saat makan ayah memberikan daging hati ayam kesaya, saya berkata "buat ayah saja". tapi jawabnya "Ayah tidak suka itu, makanlah...."
(Pekayon, Akhir Mei 2016)


Rabu, 26 April 2017

Untuk kekasihku di Dunia (3 Maret 2016)

Alhamdulillah..
Tanpa terasa 19 tahun yang lalu..
Kami mulai merajut kehidupan bersama
Dikala suka dan dikala duka
Dikala ombak, dikala badai menerpa
Kau selalu setia mendampingiku
Kau telah memenuhi seluruh ruang di relung hatiku...
Rasanya baru kemarin kita berikrar setia...
Bersama meniti jembatan kehidupan sementara ini menuju kehidupan yang lebih baik
Terlalu banyak untuk diceritakan..
Terlalu indah untuk dikenang
Terimakasih kau bersedia mengorbankan hidup dan memberikan kepercayaan penuh kepadaku, untuk menakhodai kehidupan kita
Semoga dikehidupan ini dan kehidupan mendatang kau tetap sedia mendampingiku untuk membuatku kuat, tegak,dan tegar berdiri di sisimu...
Saya meyakini kita akan berhasil kasihku
Terimakasih...
Terimakasih...
Terimakasih..
Ya Allah bantu kami mengabdi untuk-Mu.Amin YRA

18 Des 2015

Copas dari tetangga... tulisan yg bagus..
Kenapa di negara kita khususnya dan di negara muslim umumnya belum terwujud ?? "JUJUR ITU MAKMUR"
Mari kita belajar kebaikan dari siapa saja, dari mana saja dan kapan saja...
Suatu hari tanpa sengaja, Tuhan mengarahkan jari-jemari saya melalui google untuk membuka sejarah negara Denmark. Dari info Wikipidia yang kebetulan saya baca ternyata Denmark adalah negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia, negara dengan pendapatan penduduk paling tinggi di dunia, juga menjadi negara paling makmur didunia paling bersih di dunia hingga mendapat gelar “Negeri Dongeng”.
Meskipun kemudian tingkat kenyamanannya tergeser oleh New Zealand. New Zealand menempati urutan pertama negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia.
Sebagai seorang pendidik, saya langsung berpikir bahwa mungkin yang menjadi penyebab Denmark dan New Zealand menjadi negara termakmur adalah karena pendidikan mereka yang sangat baik.
Namun ternyata dugaan saya keliru. Orang-orang Denmark justru percaya bahwa penyebab dari negaranya menjadi negara termakmur, ternyaman dan teraman adalah karena masyarakatnya jujur.
Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran, pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dll.
Masyarakat Denmark percaya bahwa kejujuran bisa melahirkan segalanya. Mereka percaya bahwa setiap manusia itu pintar, dengan kejujuran maka setiap kepintaran manusia akan menjadi manfaat bagi sesama dan seluruh negeri.
Mereka yakin jika setiap aparat pemerintah jujur, mulai dari pejabat, menteri, polisi dan seterusnya dan rakyatnya jujur maka sebuah negara bisa menjadi makmur tanpa perlu menjadi yang paling pintar di bidang pendidikan.
Ternyata memang benar, Denmark masuk dalam salah satu negara dengan tingkat korupsi nyaris nol, seperti juga di Finlandia dan New Zealand.
Karena kejujuran itulah akhirnya pendidikan di negara ini pun menjadi lebih baik dan sangat maju. Jadi tidak salah jika kita katakan bahwa ketidak jujuran (mental korup), akan melahirkan bencana berantai dalam sebuah negara.
Mereka begitu yakinnya bahwa kejujuran adalah awal dari semua kebaikan dan bukannya kepintaran. Dulu saat kami mendirikan sekolah, kira-kira 10 tahun silam, kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena kami juga yakin bahwa setiap anak terlahir pintar.
Itulah sebabnya di sekolah kami, kami tidak terlalu pusing jika seorang anak belum bisa calistung (membaca, menulis, berhirung) saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD, tapi kami sangat peduli jika sorang anak tidak jujur dan beretika buruk.
Dan setelah membaca artikel ini sepertinya saya diingatkan kembali oleh Tuhan, untuk tetap mempertahankan apa yang sudah kami yakini. Bahwa karakter, prilaku dan kejujuran adalah landasan untuk membangun Indonesia yang kuat dan makmur, bukan angka-angka akademik yang tertera di buku-buku raport sekolah. (P)

Ultah 1 Sep 2015

Alhamdulillah wa syukurillah atas kesempatan dan nikmak yang Engkau kepadaku.... berupa nikmat iman, nikmat islam, nikmat sehat, nikmat rezeki, nikmat istriku Ety Swadesy yg cantik, atas karunia anak anakku Umar Zein Ardhi Siregar, Irfan Anshari Nabil Siregar terimakasih dan peluk sayang, serta untuk Ayah ibu, mertua, saudara saudara, family, temanteman yg penuh persahabatan. Teman teman kantor, relasi yg semuanya sangat baik hati. Saya merasa menjadi berarti dalam hidup ini. Serta nikmat nikmat lainnya yg tidak mampu saya sebut dan terangkan. Semoga di sisa hidup ini semangat, spirit, dukungan dan do'a tetap saya harapkan. Semoga waktu waktu kedepan menjadi lehih berkah dan bermanfa'at... Amin. Wassalam MS Siregar 01 September 2015